Perempuan di Batas Kota
Rambutnya legam-mayang
Derainya menjuntai-juntai tertiup angin semilir
Kaki telanjangnya menjejak pasir pantai
Bibirnya bersiut memanggil angin
Berharap angin mengantarkan lolongan hatinya
Di bibir pantai,
Sekuat tenaga dia berteriak
Menantang ombak
"Lelakiku tersandera di tanah seberang, dan aku di sini terpenjara di batas kota"
Sia-sia!
Teriakannya tertelan pekak debur ombak yang memeluk karang
Tinggal tubuhnya yang gigil gemetar
Basah oleh kerinduan tawar
Di batas kota,
Sisa gerimis masih tercium amis
Pada arakan senja yang berpeluh
Perempuan di batas kota itu masih setia menanti
Menanti wajah tak terjamah
Menanti hadir yang semata bayang
Hanya mendung
Hanya senandung
Menemaninya dalam penantian agung
Lila Saraswaty
Bekasi-Cibubur 28/11/2017
Wednesday, November 29, 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...
-
Apa Kabar November? Kemarau baru saja beranjak pergi. Lalu... Hujan segera menapakkan kaki-kakinya. Lewat bulir-bulir gerimis yang jat...
-
KERETA Keretaku merambah membelah sawah Membawa pergi sebagian jiwa-jiwa yang patah Karena harus berpisah Juga membawa kami yang pergi menin...
-
Bolehkan ku simpan gantungan kunci ini? Untuk mengingatkanku pada suatu saat di sebuah kampung yang jalannya berbatu dan dindingnya berpelan...
No comments:
Post a Comment