Friday, January 26, 2018

KERETA

Keretaku merambah membelah sawah
Membawa pergi sebagian jiwa-jiwa yang patah
Karena harus berpisah
Juga membawa kami yang pergi meninggalkan rumah
Tidak! Mungkin lebih tepat menyebutnya "kabur" dari tiang pancang karena perbuatan yang salah
Percintaanku dengannya di kandang sapi telah terendus hidung Pak Lurah

Keretaku melaju kian jauh
Meninggalkan kenangan yang berdebu
Juga meninggalkan ibuku
"Aku harap kau mengerti ibu....", bisikanku membentur ragu
Hanya tinggal menunggu waktu
Cepat atau lambat gadismu ini akan pergi meninggalkanmu
Gadismu yang sering kau tinggal sendiri
Ketika malam kian memekat sunyi
Gadismu yang tak pernah mengerti
Mengapa setiap mata menatap penuh benci
Mengapa setiap mulut berdengking memaki
Aku hanya bisa bertanya dalam diam sendiri
Sampai satu waktu seekor kupu-kupu hinggap di jendela rumah dan menceritakan semua tentangmu
Menatap ke arah cermin kaca buram jendela kereta
Sekelebat bayangan ibuku hadir membanjiri lorong-lorong hatiku
Dadaku terisak sesak
Mataku mengembun
Lalu mengerimis air mata
Jatuh dari sudut kecil mataku

Keretaku melaju menuju ibu kota
Ibu kota yang katanya lebih sadis dari ibu tiri
Ibu kota yang kian merias diri meski keriput wajah tak bisa lagi ditutupi
Ibu kota tempat kuli-kuli memanggul batu kali
Dan sebagian perempuan telanjang memuaskan laki-laki
Dengan hanya berbekal sekerat tekad dan senampan harapan
Berdua mencoba mengais asa di belantara kota
gelisah kian basah dalam dadaku
Takut kian menggelayut hatiku
Cemas kian meremas jiwaku
Dan kini keraguan menjajah pikiranku
Dapatkah kami bertahan hidup di sana....

Keretaku menerabas melibas kalut
Termenungku dalam buaian lamun
Bambang duduk tepat disebelahku
Terlelap dalam mimpinya yang rapuh
Menggenggam jemariku erat

Lila Saraswaty
Kalibata, 14 Januari 2018

No comments:

Post a Comment

Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...