Sunday, December 3, 2017

Semesta Merindukan Matahari

Semesta kian gelisah untuk rasakan lagi hangat mataharinya;
Semesta kian merindukan lagi kemilau sinar mataharinya.
Masalahnya hanya satu.
Justifikasi itu mendekati benar.
Lalu, bagaimana lagi aku bisa tetap percaya?

Matahari
Aku nanar dan mulai terbakar.
Merasakan perih terikmu.
Eksplosif!
Rindunya padamu memicu sumbu pengingkaran
Sebuah ledakan besar membumihanguskan warasku

Semesta
Lelah hati ini
Tersudutku ke tepi
Menepuk rapuh, membukitkan luka
"Lalu telah sampai di mana kita?"
Sampai di sini saja
Lelah ini mulai memanen luka
Saatnya ku sadar kau tak pernah ada di sini.
Tubuh fatamorgana yang ku dekap, sisanya kosong yang menyekat tatap
Kau tahu posisi ku sekarang?
Aku terjepit di antara pengingkaran dan realitas perasaan.
Berpaling, tertahan
Berlari, tertatihku
Bertubi-tubi ragu menamparku
Sesak tak terperi,
Menghunus pilu

Akan ku simpan aroma luka ini dalam wadah yang ku tutup rapat-rapat.
Biarlah jadi luka sunyi dan kunikmati keheningannya sampai hilang tak bersisa.
Dalam pekat, berkaca dari cermin buram.
Mencari lusuhnya bayangan diri yang membentur dinding batu.
Hilang, entah.

Lila Saraswaty
Cibubur, 19 Desember 2015

No comments:

Post a Comment

Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...