Monday, December 11, 2017


Cintaku Bersemi di Kandang Sapi

"Aku tunggu kamu di kandang sapi belakang rumahku, sekarang!"

Pesan yang masuk ke gawaiku siang itu
Tanpa basa-basi aku melesat bak peluru
kakiku gesit melangkah ke tempat yang dituju
tidak peduli meskipun aku masih mengenakan seragam abu-abu

Dia bernama Marsiti
Gadisku yang menggetarkan hati
Gadis yang berjarak lima tahun lebih tua dariku tetapi bagiku itu tak berarti
Gadis lugu yang selalu berkata apa adanya tanpa partisi
Gadis yang mampu menelanjangi rahasia terdalamku tanpa permisi

Duh, gadisku Marsiti
Sepanjang perjalanan jantungku berdegup kencang seperti genderang perang
lesung pipi dan gigi kelinci milikmu selalu terbayang-bayang
aduhaiiii...
menggemaskan sekali...

Duh, gadisku Marsiti
Bersamamu cintaku bersemi
gelora mudaku melesat tak terkendali
Gadis yang mampu mengubah kandang sapi menjadi kamar surgawi yang mewangi
Ah...biarlah
Aku nikmati saja semua dalam sunyi
Lalu terbangkan angan berkelana sejauh angin berlari

Duh, gadisku Marsiti
Begitu berselera aku menyantap rindu yang kau hidangkan
Siang-siang aku sudah dibuat melayang
Kamu telah melumat rasaku tanpa kendali
Jika begini aku bisa mati terkapar
Terbujur kaku bersama sesal yang menggelepar 

Duh, gadisku Marsiti
Kapan lagi kita bertemu di kandang sapi?

Lila Saraswaty 
Kalibata, 6 Desember 2017 
Foto By: Rarindra Prakarsa
 

Monday, December 4, 2017

Jangkar Hati

Aku siapa?
Aku adalah kegelapan yang memujamu
Kegelapan yang membutakanmu

Aku siapa?
Aku jangkar hati yang menenggelamkanmu
Lalu menyeretmu hingga ke dasar lautan beku

Hai...Siapa kamu?
Aku ingin mengenalmu
Mengenal dirimu lewat jemariku
Aku ingin meraba jiwamu
Menyusuri setiap lekuk hatimu
Tetapi rasanya aku tak mampu
Tanganku sulit menjangkaumu
Karena setiap kali aku ingin meraihmu
Hati dan pikiranmu berlari lari entah kemana
Seperti letupan kembang api yang berpendar ke segala arah di angkasa

Aku memujamu
Aku mencintaimu
Berharap dapat melihatmu sekarang
Meski hanya sekedar impian gersang

Berartikah diriku?
Entahlah...

Cinta?
Aku meragukannya...

Lila Saraswaty
Cibubur, 17 Juni 2015

Sunday, December 3, 2017

Semesta Cinta

Mungkin aku hanyalah bintang kecil di semestamu
Bintang kecil yang pernah hadir menyinari hari-harimu
Menghiasi ruang gelapmu
Mencoba bersinar diantara bintang-bintang yang sinarnya lebih benderang yang menghiasi setiap ruangmu
Kesunyian tak akan menghampirimu walaupun bintang kecil ini tak ada lagi
Gulita tak akan menyelimuti semestamu walaupun bintang kecil ini tak bersinar lagi

Tahukah cinta
Tak ingin rasa ini menjerat dan mengikatmu erat
Rasaku kepadamu tak pernah berubah.
Sampai hari ini, waktu ini, menit ini, detik ini
Aku masih menghirup nafas kasihmu
Bayanganmu masih mengisi setiap ruang pikiranku
Bak goresan cat dalam sebuah kanvas
Goresan dan warnamu sangat nyata menggores kanvas kehidupanku
Tak kan terganti
Entah sampai kapan

Lila Saraswaty
Cibubur, 18 Juli 2015
Kepada Embun

Embun...
Jauh di sini aku selalu merindukan
Indah pesonamu menggugat rinduku
Wajahmu lekat dalam ingatan
Andai ku bisa terbang malam ini ke dalam mimpimu

Embun...
Jiwa ini selalu menunggu bait-bait kasihmu
Indah melantunkan nada-nada rindu
Warnai dan sejukkan jiwaku
Angan dan khayalan merasukiku

Embun...
Jangan berhenti memujaku
Ikatan kasih ini terpisahkan
Walaupun takut ada luka
Aku takut tenggelam dalam pusaran rahsa

Embun...
Jelas tergambar kegelisahan
Ingkar kerinduan tepiskan kerapuhan
Walau tak sanggup menahan arusnya
Akhirnya kita hanyut dan terbuai

Embun...
Jika saja kau tahu
Ingin ku bingkai kisah kita dengan keindahan
Warnai harimu selalu dengan senyuman
Akhiri semuanya dengan kebahagiaan

Lila Saraswaty
Cibubur 28 Juli 2015
Semesta Merindukan Matahari

Semesta kian gelisah untuk rasakan lagi hangat mataharinya;
Semesta kian merindukan lagi kemilau sinar mataharinya.
Masalahnya hanya satu.
Justifikasi itu mendekati benar.
Lalu, bagaimana lagi aku bisa tetap percaya?

Matahari
Aku nanar dan mulai terbakar.
Merasakan perih terikmu.
Eksplosif!
Rindunya padamu memicu sumbu pengingkaran
Sebuah ledakan besar membumihanguskan warasku

Semesta
Lelah hati ini
Tersudutku ke tepi
Menepuk rapuh, membukitkan luka
"Lalu telah sampai di mana kita?"
Sampai di sini saja
Lelah ini mulai memanen luka
Saatnya ku sadar kau tak pernah ada di sini.
Tubuh fatamorgana yang ku dekap, sisanya kosong yang menyekat tatap
Kau tahu posisi ku sekarang?
Aku terjepit di antara pengingkaran dan realitas perasaan.
Berpaling, tertahan
Berlari, tertatihku
Bertubi-tubi ragu menamparku
Sesak tak terperi,
Menghunus pilu

Akan ku simpan aroma luka ini dalam wadah yang ku tutup rapat-rapat.
Biarlah jadi luka sunyi dan kunikmati keheningannya sampai hilang tak bersisa.
Dalam pekat, berkaca dari cermin buram.
Mencari lusuhnya bayangan diri yang membentur dinding batu.
Hilang, entah.

Lila Saraswaty
Cibubur, 19 Desember 2015

C.I.N.T.A.

Cinta...
Cinta bisa membuat orang buta. Tak peduli seperti apa orang yang kita cintai ketika hati telah memilihnya maka tak perlu mencari jawaban atas pertanyaan "mengapa?".

Cinta...
Cinta bukan ilmu matematika atau fisika yang dapat dihitung dengan akal dan logika. Tidak ada rumus pasti yang dapat menghitung kedalaman cinta.

Dan...Cinta
Cinta tak harus memiliki. Terkadang kita harus melepaskan cinta tersebut. Karena cinta sejati selalu ingin membahagiakan orang yang dicintai.




Membacamu Dalam Jarak


Membacamu
Ini yang sedang aku lakukan
perlahan-lahan menerjemahkan
Kata demi kata
Kalimat yang tersaji begitu memesona
Larik-lariknya melesapkan pikiran
Iramanya membujuk anganan

Menyelamimu
Ini yang sedang aku lakukan
Meraba setiap inci kisahmu
Menyentuh bahagia dan sedihmu
Mencecap manis pahit hidupmu
Merasakan napasmu dari kejauhan
Lalu...aku hirup dalam-dalam

Masih....
Meski dalam jarak
Kuberbaca setiap gerak hatimu
Tak jenuh; entah sampai kapan
Karena membacamu
Meniadakan kata bosan itu

Lila Saraswaty
Cibubur, 3 Desember 2017

Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...