Wednesday, November 29, 2017


♥KEMULAN SWIWI♥

Aku tersesat. Kakiku sudah lelah menyusuri hutan belantara ini. Sebelumnya aku tidak pernah masuk ke dalam hutan sampai sejauh ini. Entah sudah berapa lama aku hanya berputar-putar di tempat yang sama. Aku pergi dari rumah sejak matahari masih mengintip malu dari balik awan dan sekarang kulihat arakan senja di langit telah siap mengantarkan matahari kembali ke peraduannya.

Kaki kecilku terus melangkah menyusuri hutan belantara. Dengan napas yang terengah aku paksakan tubuh kurusku terus berjalan. Aku hanya ingin kembali pulang, hanya itu yang ada dalam pikiranku, tidak yang lainnya. Tetapi semakin aku menginginkan untuk sampai ke rumah aku merasakan rumahku semakin jauh tertinggal di belakangku, aku semakin jauh terperosok ke dalam hutan yang pekat ini.

Dari kejauhan tempatku berdiri terdengar suara aliran air. Seperti mendapatkan napas baru, tergopoh-gopoh aku berlari menuju arah suara air tersebut. Tak kupedulikan lagi kakiku yang sakit dipenuhi luka terkena duri perdu dan ranting pepohonan yang menghalangi langkahku. Mataku terpana seketika ketika melihat pemandangan yang ada di depanku. Sungai mengalir di hadapanku, airnya sangat jernih, sepertinya belum pernah terjamah oleh tangan manusia, begitu jernihnya air sungai tersebut sampai-sampai aku bisa bercermin dalam riaknya. Dari tempatku berdiri, tampak dari kejauhan sebuah air terjun kecil yang sangat memesona.

Tepat di bibir sungai aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, melepaskan lelah yang mendera dan menghilangkan dahaga yang menyiksa kerongkonganku sedari tadi. Aku meminum air sungai tersebut tersebut dengan kedua belah tanganku lalu memasukkannya ke mulutku perlahan-lahan sedikit demi sedikit. Sungai yang sangat jernih ini menggodaku untuk melangkah lebih jauh merasakan sejuk alirannya membasuh kakiku. Ketika hendak membasuh wajahku dengan sejuknya air, tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan lalu terperosok masuk ke dalam sungai. Aku tidak bisa berenang. Sekuat tenaga aku berteriak meminta pertolongan. Bodohnya diriku sia-sia saja aku berteriak, tidak ada seorang pun di tengah hutan ini. Dengan sisa kekuatan yang kupunya, aku berusaha menggapai-gapai apapun yang dapat kugapai. Tetapi semua usahaku sia-sia belaka. Entah sudah berapa banyak air yang masuk ke dalam mulut dan hidungku. Air sungai telah memenuhi paru-paruku. Dadaku sesak. Aku kehabisan napas. Tubuhku kelelahan dan tak berdaya. Pada saat aku telah memasrahkan tubuhku ditelan bulat-bulat oleh sungai. Tiba-tiba sebuah tangan dengan cepat menarik kuat tubuhku naik ke permukaan sungai lalu mengangkat dan menggendong tubuh lemahku kemudian menerbangkanku menuju tepian sungai. Dengan sisa napas yang kupunya lemah ku berkata, "sayap...kau bersayap....". Setelah itu aku tak sadarkan diri.

*****

"Apakah kamu baik-baik saja?", suara lembut itu membangunkanku. 
Tubuhku terbaring lemah di tepi sungai. Perlahan-lahan aku kumpulkan kesadaran yang sempat tercerabut dan perlahan-lahan membuka kelopak mataku. Tubuhku masih terasa sangat lemah, tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun. Aku melihat di hadapanku sesosok lelaki berjubah dan berpakaian serba putih. Punggungnya.... punggungnya bersayap. Ada sayap berbulu putih di punggungnya. 
"Apakah aku telah mati dan apakah kau seorang malaikat?". Lemah aku bertanya kepadanya. 
"Kau belum mati dan aku bukanlah malaikat". Dia tersenyum.
Aku teringat cerita yang pernah diceritakan ibu sewaktu kecil sebelum tidur. Cerita rakyat tentang kerajaan di atas awan dan manusia-manusia indah bersayap yang hidup disana. Mereka terkadang turun ke bumi tepatnya ke sebuah air terjun yang berada di tengah hutan. Tetapi tidak ada satu orang pun yang pernah menemukan air terjun tersebut.

Apakah aku sedang bermimpi, tanyaku dalam hati. Manusia bersayap yang kukira hanya sebuah cerita berdiri tepat dihadapanku. Sambil mengulurkan tangannya dia tersenyum ke arahku dan berkata, "Mari aku antar kamu pulang". Tanganku langsung menyambut uluran tangannya dan mengikuti setiap langkah kakinya. Dia membawaku ke sebuah kereta kencana. Kereta kencana yang ditarik oleh dua ekor kuda putih bersayap yang letaknya tidak jauh dari tepi sungai tempatku terbaring. Laki-laki bersayap itu tetap memegang tanganku lembut dan menuntunku masuk ke dalam kereta kencananya. Kereta kencana itu berwarna biru, beralaskan permadani berbulu halus berwarna biru, dindingnya dilapisi kain sutera halus berkualitas juga berwarna biru. Sepertinya laki-laki bersayap ini sangat menyukai warna biru pikirku. Sesaat setelah aku duduk di dalamnya kereta kencana tersebut bergerak. Aku terkesiap, kereta kencana ini tidak berjalan menggilas bumi melainkan terbang ke angkasa.

Di dalam kereta kencana, kami duduk berhadapan. Aku tertunduk terdiam tidak berani sedikitpun mentatapnya walaupun hanya sekedar, namun aku sadar saat ini dia sedang menatap ke arahku. Tanpa menatap langsungpun, sekilas dapat terlihat bahwa laki-laki bersayap ini sangatlah tampan.
"Tubuhmu menggigil, kamu kedinginan. Mendekatlah padaku akan kuhangatkan kamu dengan sayapku". Suaranya halus terdengar merdu membujuk kalbu.
"Tidak apa, tubuhku dan pakaian yang aku kenakan ini akan mengering dengan sendirinya" canggung aku menolaknya.
Tetapi lelaki bersayap itu malah datang menghampiriku dan duduk di sebelahku kemudian langsung menarik tubuhku masuk ke dalam pelukannya. "Aku tidak ingin kamu mati kedinginan di dalam kereta ku ini", bisiknya yang seperti hembusan angin yang melenakan telinga. Aku terkesiap, hangat menjalar hingga terasa ke pipiku. Aku tak sanggup menolaknya. Tidak!. Sepertinya saat ini tubuhku memang kehilangan kekuatan, tidak berdaya dalam dekapan hangatnya. Aku terhipnotis seketika oleh magis pesonanya detik itu juga. Aku diam tidak bergerak. Mulutku membisu tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Hangat dekapannya menjalar ke setiap ruas tubuhku, merasakan kenyaman yang tiba-tiba hadir menyelimuti kami berdua. Dapat kudengar dengan jelas detak jantungnya mengalun indah ditelingaku.

Masih dalam pelukannya, sesaat aku tatap wajahnya, oh tidak... ternyata dia sedang menatapku juga. Sesaat yang abadi, detik itu juga aku telah terpikat dalam oleh teduh tatapan matanya dan tidak berdaya menolak percikan yang ia hantarkan kepadaku. Sepasang sayap putih miliknya masih menyelimuti lembut tubuhku, menghangatkan tubuhku hingga ke jiwaku. Waktu seperti berhenti berdetak tetapi entah kenapa detak jantungku malah semakin berdetak hebat.

Kereta kencana terbang semakin tinggi ke angkasa. Dari balik jendela, dapat ku lihat rembulan saat ini terus mengiringi setiap perjalanan kami seperti tak ingin melewatkan sedetikpun menyaksikan perjalanan kami yang sekarang ini telah menjadi bagian dari lukisan indah di langit bersama bintang gemintang. Belum pernah sebelumnya aku melihat rembulan sedekat, seindah dan sepenuh seperti malam ini. Aku berkeyakin jika saja aku mengulurkan tanganku melewati jendela ini aku dapat menyentuh rembulan yang memesona itu. Tetapi aku sedang tak ingin melakukan itu, yang ingin aku lakukan saat ini hanya terus meringkuk di dalam dekapan hangat sayapnya. Seperti janin yang ingin terus meringkuk nyaman dan hangat di dalam rahim ibunya. Aku ingin selamanya di sini. Jika ini adalah mimpi, senyatakan aku tidak ingin terbangun dari tidurku ini.

Dalam diam, kudengarkan detak jantungnya yang mengalun indah bak simfoni yang mengalun merdu di telingaku. Tidak bosan kudengarkan berulang-ulang. Dari tubuhnya menguarkan wangi yang enak sekali. Wangi tubuhnya ini bukan berasal dari aroma bunga, buah atau pepohonan yang biasa di buat wewangian, wangi tubuhnya sangat khas, belum pernah sebelumnya aku mencium wangi seenak ini. Aku hirup dalam-dalam aroma tubuhnya, memuaskan rongga paru-paruku lalu kemudian kusimpan wangi ini di dalam ceruk ingatanku sebagai wangi kesukaanku menggantikan wangi bunga mawar yang dulu sangat kusuka.

"Namaku Pangeran Biru Wangi, aku berasal dari kerajaan senja yang ada di atas awan". Dia berkata dengan suara lembut. Ini menjelaskan kenapa kereta kencananya berwarna biru.
"Namaku Marsiti, aku berasal dari Desa Kemuning yang berada di balik Bukit Nirwana.

Pelukannya semakin erat menyelimuti tubuhku. Sebenarnya aku tidak lagi menggigil, bahkan bajuku yang tadi basah telah mengering tetapi dia sepertinya enggan melepaskan dekapannya. Jika tadi aku berjuang agar tidak tenggelam ke dalam sungai. Kali ini aku dengan sengaja terjun bebas masuk ke dalam derasnya arus sungai pesonanya. Aku rela tenggelam sampai ke dasar pusaran rasamu dan menetap di sana. Tetapi kali ini aku tidak tenggelam seorang diri, kali ini dia pun turut serta tenggelam dalam pusaran rasa yang mendadak sengit. Perjalanan ini telah menghanyutkan kita berdua dalam gelombang renjana yang datangnya seperti kilat. Sesaat yang menghentakkan hati. Melesat dan langsung menghujam jantung dengan telak. Malam ini, berdua kita merangkai bait-bait sajak, tanpa jeda, tanpa spasi, dan tanpa kata-kata. Rembulan berkelindan dengan pekatnya malam, begitupun rasaku dengan rasanya menyatu dalam pekatnya cinta. Dalam desahan angin dan erangan malam, kita menyatu dalam ketelanjangan rasa yang tak bernama, tak bernyawa.

****
"Ceritakan tentang kehidupanmu", kataku.
Dia pun bercerita tentang kehidupan negeri senja yang selalu bahagia. Tidak ada peperangan. Mereka tidak pernah tua dan mati. Mereka hanya memiliki satu anak, ibu mereka mengandung selama tujuh bulan dan melahirkan anak mereka masih dalam cangkang. Setelah dua bulan di dalam cangkang, kemudian menetas dan keluarlah bayi manusia bersayap. Pasangan hidup mereka telah ditentukan semenjak mereka masih di dalam cangkang.
"Jadi kamu telah memiliki pasangan hidup?".
"Iya, aku sudah memiliki pasangan yang telah ditetapkan sejak aku masih berada dalam cangkang, dia bernama Putri Embun Jelita.

kemudian dia bercerita panjang lebar tentang Putri Embun Jelita kepadaku. Embun Jelita adalah wanita bersayap paling cerdas dan paling cantik di negeri senja. Mereka berdua sering terbang di saat senja berwarna jingga kemerahan. Disaat itu lah mereka akan memadu kasih. Mendengar cerita tentang Embun Jelita yang keluar dari mulutnya membuat hatiku menangis pilu, seketika merasakan perih tak terkira, dan aku hanya bisa diam dalam keresahan. Tiba-tiba dia menghentikan ceritanya. Ketika dia melihat air mata keluar dari celah sempit mataku lalu mengalir membasahi pipiku.
"Ini apa?", dia menyentuh air mata yang jatuh ke pipiku dengan jari tangannya dengan lembut.
"Ini adalah air mata".
"Kenapa air mata keluar dari celah matamu?", kerisauan terlukis jelas di wajahnya saat ini. 
"Terkadang manusia seperti kami akan menangis ketika bersedih, ketika hati tidak lagi dapat membendung deraan kepedihan maka akan tertumpahkan segala sedih itu lewat air mata yang keluar dari celah kecil mata kami. Begitupun ketika kami merasakan bahagia yang berderai tak terkira rasanya kami pun akan menangis karena rasa bahagia itu".
Di raut wajahnya semakin menampakkan kebingungan, karena manusia bersayap selalu hidup bahagia dan tidak pernah menangis.
"Lantas apa yang menyebabkan kamu menangis saat ini?".
"Aku menangis saat ini karena bahagia telah tenggelam dalam pusara rasamu tetapi di saat yang sama aku pun merasakan pedih karena terbelenggu dalam ketidakberdayaan".
Tahukah kamu Biru Wangi begitu cepat cinta ini hadir dan berakhir.

Hening menyusup tanpa permisi masuk ke tengah-tengah percakapan kami.
"Sebentar lagi sampai di rumahmu", dia berbisik lembut ke telingaku. Mimpi indah ini akan segera berakhir dan aku akan sangat merindukannya. Dia sepertinya tahu bahwa aku sangat menderita karena harus berpisah dengannya. Setelah sampai di dekat rumahku, dia memegang lembut tanganku dan menurunkanku perlahan dari kereta kencananya. Setelah menurunkanku, dia menatap lamat-lamat, lembut jemarinya menghapus kembali air mataku yang sedari tadi tak dapat kubendung lagi.
"Marsiti...kamu bisa melihatku terbang di atas awan ketika senja berwarna jingga bergaris merah dan ketika rembulan menampakan bulat penuh. Saat itu lah aku akan datang ke dalam mimpimu".
Kemudian dia memeluk dan mengecup keningku lalu berjalan masuk ke kereta kencananya meninggalkanku. Kereta kencanan biru terbang ke arah rembulan makin lama makin mengecil lalu menjadi titik dan akhirnya menghilang.
*****
Setiap kali langit biru berganti langit senja berwarna jingga bergaris merah. Aku duduk di pelataran rumahku. Aku melihat Pangeran Biru Wangi dan Puteri Embun Jelita terbang dengan sayapnya terbentang indah kemilau. Ada rasa cemburu dan pedih seketika menyergap hatiku ketika melihat kemesraan mereka di atas sana. Hanya diriku yang mempunyai kemampuan melihat mereka. Penduduk desa Kemuning berpikir, sejak aku menghilang waktu itu aku berubah menjadi perempuan sinting, suka melihat langit di waktu senja, kadang tersenyum sendiri dan terkadang menangis.

*****
Bulan menampakkan bentuk bulat penuh, malam itu dia datang ke dalam mimpiku dan kita berdua memadu kasih di luar alam sadarku.

No comments:

Post a Comment

Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...