Aku Adalah Korban Pelecehan
Tahun 2004
Stasiun Universitas Indonesia
Pagi itu seperti biasa
Aku berangkat ke kantor dengan menggunakan moda kereta
Aku duduk di bangku kusam peron
Menunggu kereta yang usang
Ditemani wajah-wajah cemas penumpang
Wajah-wajah renta penjual asongan
Wajah-wajah pedih para gelandangan
Wajah-wajah jenuh petugas penjual tiket
Dan sisa kepul asap cerutu
Pagi itu seperti biasa
Jadwal keberangkatan kereta terlambat
Membuat peron penumpang kian padat
Dorong mendorong
Injak menginjak
Sikut menyikut
menjadi sebuah pemandangan yang biasa
Empati telah ditendang jauh-jauh
Simpati telah ditanggalkan dari tubuh nurani
Yang kini melekat tinggalah ego merajai diri
Setelah kereta yang kesekian
Akhirnya aku dapat masuk ke sebuah gerbong yang pengap dan gelap
Desakan brutal penumpang membuatku kian terdesak melesak ke dalam
Entah bagaimana ceritanya
Kini aku terjepit di antara pria-pria bertubuh kekar dan berwajah sangar
Selang beberapa saat
Ku pikir tidak ada yang aneh
Ini sudah biasa terjadi di dalam gerbong yang penuh sesak
Berdesak-desakan
Berjelal-jejalan
Berhimpit-himpitan
Hingga selang beberapa stasiun
keanehan mulai menghampiri benakku
Aku merasakan ada yang aneh
Tangan laki-laki di belakangku tiba-tiba menjamah pahaku lalu naik ke pinggangku
Lalu sesuatu yang keras mendorong-dorong
Menusuk-nusuk bagian belakangku
Aku tak dapat melihat wajah lelaki yang ada dibelakangku itu
Hanya nafasnya yang sesekali menderu di telingaku
Seketika aku tersentak
Ada yang tidak beres
Ada yang tidak wajar
Sekuat tenaga aku memberontak
Melepaskan diriku dari cengkramannya
Tetapi semakin kuat aku melawan semakin kuat cengkramannya
Aku membentak
dia bergeming tak bergerak
Aku berteriak
Tetapi kerongkonganku tercekat
Aku menatap orang-orang di sekelilingku
Mereka diam seperti batu
Tak peduli terhadap apa yang tengah menimpaku
Tiba-tiba aku merasa asing dengan duniaku
Ketakutan kini menjalari pikiranku
Aku berdoa agar pertolonganNya datang padaku
Dan entah dari mana seketika kekuatan itu hadir
Aku injak kakinya
Aku sikut perutnya
Aku dorong tubuhnya
Laki-laki itu mengaduh
Di saat itu aku melihat ada celah sempit untuk kabur
Sekuat tenaga aku beringsut keluar dan turun dari kereta
Setelah turun dari kereta yang bak neraka itu
Aku duduk menenangkan diriku
Aku menangis meratapi diriku
Menjerit pilu dalam hatiku
Terisakku sendiri di sudut stasiun
Tiba-tiba aku merasa tak utuh lagi
Ada yang tercerabut
Ada yang terkoyak
Jiwaku....
Aku adalah seorang korban pelecehan
Ini adalah ceritaku yang memilukan
Cerita yang telah lama ku kubur dalam ingatan
Tetapi tak bisa ku hapus dari memori
Hingga saat ini
Jakarta, 22 Januari 2018
Lila Saraswaty
Friday, January 26, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...
-
Apa Kabar November? Kemarau baru saja beranjak pergi. Lalu... Hujan segera menapakkan kaki-kakinya. Lewat bulir-bulir gerimis yang jat...
-
Cinta Sepotong Strudle Ada manis dalam lugu senyuman. Ada kerenyahan dalam tegur sapa. Ada kelembutan dalam hangat tatapan. Ada kenikma...
-
HARI INI SEMESTA TERSENYUM Pada lipatan pagi Pada sinaran mentari Untukmu ku persembahkan puisi ini Untuk pemilik hati yang selalu a...
No comments:
Post a Comment