Friday, January 26, 2018

Membakar Kenangan
Di depan perapian
Ia duduk memeluk diri
Terpaku tatapannya sendu
Sendat napasnya berat
Pelupuk matanya menyiratkan kepiluan
Sempurna ia tengah terluka

    Di belakang rumah
    Ia duduk merangkul sunyi
    Memandang jauh menembus waktu
    Aliran darahnya melambat
    Denyut nadinya menampakkan penyesalan
    Lengkap sudah perangkap kenangan

   
Di depan perapian
Ia membuka album kenangan
Kenangan bersama lelaki yang sempat ia puja
Lelaki yang kerap hadir dalam mimpi-mimpinya
Lelaki yang wangi tubuhnya pernah ia candui
Lelaki yang telah menggetarkan rindu tanpa batas kendali
Lelaki yang matanya membianglala
Lelaki yang kini menorehkan luka
Menyayat pedih

    Di belakang rumah
    Ia membalik tiap lembar ingatan
    Ingatan bersama perempuan pujaannya
    Perempuan yang tersusun dari bongkahan mimpinya
    Perempuan yang papar parasnya ingin ia singgahi
    Perempuan yang meledakkan hasrat bercumbu tanpa henti
    Perempuan yang binar ronanya menyeduh senja
    Perempuan yang kini membilur duka
    Menandas perih

Di depan perapian
Ia tatap satu persatu foto kenangannya itu
Dan bayangannya menuntun kembali ke masa-masa lalu
Masa-masa bahagia tercampur luka
Masa-masa manis tercampur getir

    Di belakang rumah
    Ia sebar ingatan demi ingatan dengannya itu
    Dan senyumnya  menarik tubuhku ke ruang rindu
    Ruang  kemesraan yang menggores pilu
    Ruang  warna-warni  yang bercorak abu

   
Di depan perapian
Air mata kini berguguran dari pipi pasinya
ia robek kenangan itu
Kemudian dilemparkan ke dalam perapian
Semua kenangan itu hangus terbakar
Tak bersisa satu pun
Dalam lirih ia berkata,
"Cerita tentang kita berakhir sampai di sini."

    Di belakang rumah
    Nestapa menjalar melingkari jiwanya
    Ia coba bangun menara  kenangan itu
    Kemudian disusunnya dengan peluh sesal membatu
    Semua kenangan membentuk tugu
    Tak tertinggal satu pun
    Kepada angin ia titipkan tanya,
    "tak adakah benih maaf yang tersisa?”
24 Januari 2018
Lila Saraswaty

    Noe Ichwanushofa

No comments:

Post a Comment

Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...