Membakar Kenangan
Di depan perapian
Ia duduk memeluk diri
Terpaku tatapannya sendu
Sendat napasnya berat
Pelupuk matanya menyiratkan kepiluan
Sempurna ia tengah terluka
Di belakang rumah
Ia duduk merangkul sunyi
Memandang jauh menembus waktu
Aliran darahnya melambat
Denyut nadinya menampakkan penyesalan
Lengkap sudah perangkap kenangan
Di depan perapian
Ia membuka album kenangan
Kenangan bersama lelaki yang sempat ia puja
Lelaki yang kerap hadir dalam mimpi-mimpinya
Lelaki yang wangi tubuhnya pernah ia candui
Lelaki yang telah menggetarkan rindu tanpa batas kendali
Lelaki yang matanya membianglala
Lelaki yang kini menorehkan luka
Menyayat pedih
Di belakang rumah
Ia membalik tiap lembar ingatan
Ingatan bersama perempuan pujaannya
Perempuan yang tersusun dari bongkahan mimpinya
Perempuan yang papar parasnya ingin ia singgahi
Perempuan yang meledakkan hasrat bercumbu tanpa henti
Perempuan yang binar ronanya menyeduh senja
Perempuan yang kini membilur duka
Menandas perih
Di depan perapian
Ia tatap satu persatu foto kenangannya itu
Dan bayangannya menuntun kembali ke masa-masa lalu
Masa-masa bahagia tercampur luka
Masa-masa manis tercampur getir
Di belakang rumah
Ia sebar ingatan demi ingatan dengannya itu
Dan senyumnya menarik tubuhku ke ruang rindu
Ruang kemesraan yang menggores pilu
Ruang warna-warni yang bercorak abu
Di depan perapian
Air mata kini berguguran dari pipi pasinya
ia robek kenangan itu
Kemudian dilemparkan ke dalam perapian
Semua kenangan itu hangus terbakar
Tak bersisa satu pun
Dalam lirih ia berkata,
"Cerita tentang kita berakhir sampai di sini."
Di belakang rumah
Nestapa menjalar melingkari jiwanya
Ia coba bangun menara kenangan itu
Kemudian disusunnya dengan peluh sesal membatu
Semua kenangan membentuk tugu
Tak tertinggal satu pun
Kepada angin ia titipkan tanya,
"tak adakah benih maaf yang tersisa?”
24 Januari 2018
Lila Saraswaty
Noe Ichwanushofa
Friday, January 26, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...
-
Apa Kabar November? Kemarau baru saja beranjak pergi. Lalu... Hujan segera menapakkan kaki-kakinya. Lewat bulir-bulir gerimis yang jat...
-
KERETA Keretaku merambah membelah sawah Membawa pergi sebagian jiwa-jiwa yang patah Karena harus berpisah Juga membawa kami yang pergi menin...
-
Bolehkan ku simpan gantungan kunci ini? Untuk mengingatkanku pada suatu saat di sebuah kampung yang jalannya berbatu dan dindingnya berpelan...
No comments:
Post a Comment