Friday, January 26, 2018

Memendam Cinta
Untuk sementara waktu kami menumpang di rumahnya
Terletak di lorong pemukiman kumuh ujung Jakarta
Dikelilingi manusia-manusia yang merintih jalani hidup 
Sayup-sayup terdengar suara penyanyi dangdut pinggiran dari radio usang
Bau amis got menyengat mengendap masuk setiap ku buka jendela
Riuh anak-anak jalanan berteriak sambil bertelanjang dada
Di sini Matahari dan Bulan enggan menampakkan diri
Karena langit terhalang beton-beton jalan layang

Dia adalah sepupu jauh dari Bambang
Berkacamata dengan sorot mata letih
Raut wajah lugu dan amat pemalu
Rambut klimis dengan bau minyak rambut menyengat
Dan wajah yang tertutup penuh jerawat

Ah…dia lucu sekali ketika sedang tersipu-sipu malu
ketika aku menangkap basah matanya
Sedang menatapku dengan binaran penuh damba
Atau ketika sekedar lirik acuh tak acuh tapi menyimpan suka
waktu daster basahku tersingkap hingga lutut ku nampak
Saat aku sedang mencuci
Dan dia menuangkan air dari perigi
Atau ketika dia menahan nafas
Waktu aku bergelayut manja di lehernya
Atau ketika dia terdiam gagu
Waktu dia berpapasan denganku yang baru selesai mandi dengan rambut masih basah
Atau ketika wajahnya menunduk malu
waktu aku mengambil sebutir nasi yang tertinggal di ujung bibirnya

Dia adalah  Singgih
Dia yang selalu menyendiri dalam remang-remang malam
Dia yang selalu berjarak dengan ramai
Dia yang selalu tercekat dalam kata-kata
Dia yang diam-diam memendam cinta

Kalibata 26 Januari 2018
Lila Saraswaty

No comments:

Post a Comment

Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...