Membakar Kenangan
Di depan perapian
Ia duduk memeluk diri
Terpaku tatapannya sendu
Sendat napasnya berat
Pelupuk matanya menyiratkan kepiluan
Sempurna ia tengah terluka
...Di belakang rumah
...Ia duduk merangkul sunyi
...Memandang jauh menembus waktu
...Aliran darahnya melambat
...Denyut nadinya menampakkan penyesalan
...Lengkap sudah perangkap kenangan
Di depan perapian
Ia membuka album kenangan
Kenangan bersama lelaki yang sempat ia puja
Lelaki yang kerap hadir dalam mimpi-mimpinya
Lelaki yang wangi tubuhnya pernah ia candui
Lelaki yang telah menggetarkan rindu tanpa batas kendali
Lelaki yang matanya membianglala
Lelaki yang kini menorehkan luka
Menyayat pedih
...Di belakang rumah
...Ia membalik tiap lembar ingatan
...Ingatan bersama perempuan pujaannya
...Perempuan yang tersusun dari bongkahan mimpinya
...Perempuan yang papar parasnya ingin ia singgahi
...Perempuan yang meledakkan hasrat bercumbu tanpa henti
...Perempuan yang binar ronanya menyeduh senja
...Perempuan yang kini membilur duka
...Menandas perih
Di depan perapian
Ia tatap satu persatu foto kenangannya itu
Dan bayangannya menuntun kembali ke masa-masa lalu
Masa-masa bahagia tercampur luka
Masa-masa manis tercampur getir
...Di belakang rumah
...Ia sebar ingatan demi ingatan dengannya itu
...Dan senyumnya menarik tubuhku ke ruang rindu
...Ruang kemesraan yang menggores pilu
...Ruang warna-warni yang bercorak abu
Di depan perapian
Air mata kini berguguran dari pipi pasinya
ia robek kenangan itu
Kemudian dilemparkan ke dalam perapian
Semua kenangan itu hangus terbakar
Tak bersisa satu pun
Dalam lirih ia berkata,
"Cerita tentang kita berakhir sampai di sini."
...Di belakang rumah
...Nestapa menjalar melingkari jiwanya
...Ia coba bangun menara kenangan itu
...Kemudian disusunnya dengan peluh sesal membatu
...Semua kenangan membentuk tugu
...Tak tertinggal satu pun
...Kepada angin ia titipkan tanya,
...“tak adakah benih maaf yang tersisa?”
24 Januari 2018
Lila Saraswaty & Noe Ichwanushofa
Friday, March 9, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...
-
Apa Kabar November? Kemarau baru saja beranjak pergi. Lalu... Hujan segera menapakkan kaki-kakinya. Lewat bulir-bulir gerimis yang jat...
-
KERETA Keretaku merambah membelah sawah Membawa pergi sebagian jiwa-jiwa yang patah Karena harus berpisah Juga membawa kami yang pergi menin...
-
Bolehkan ku simpan gantungan kunci ini? Untuk mengingatkanku pada suatu saat di sebuah kampung yang jalannya berbatu dan dindingnya berpelan...
No comments:
Post a Comment