Memeluk Resah
Katamu kota ini adalah muaranya mimpi
Bagi sekawanan burung yang bermigrasi
Katamu kota ini adalah sumber mata air telaga
Bagi sekawanan rusa yang kehausan di tengah rimba
Tapi kenyataannya
Semua hanyalah fatamorgana
Mungkin angin telah meniadakannya
Atau mungkin aku saja yang selama ini buta
Termakan cerita drama yang kerap berakhir bahagia
Kepada kamu: kekasihku
Bolehkah aku pinjam bahumu
Untuk sejenak merebahkan gelisahku
Aku ingin bersama menyisiri belantara hidup ini bersamamu
Meski harus berjibaku dengan getirnya waktu
Meski harus terseok-seok melangkah di jalan semu
Meski harus merintih merintis harapan pilu
Kepada kamu: kekasihku
Genggamlah terus jemariku
Karena kau lah kini muara mimpiku
Karena kau lah kini sumber mata air telaga bahagiaku
Di batas ufuk, mentari perlahan-lahan menghilang dikunyah lautan
Di atas buritan, Bambang mendekapku erat tanpa malu
Pandangannya kini melaut wagu
Siut angin memain-mainkankan angannya yang kini menggelombang ragu
Tangannya kini lemah menggenggam mimpi yang kian mengabu-abu
Lila Saraswaty
Kalibata, 5 Februari 2018
Monday, February 5, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kehidupan… Kehidupan berdetak saat mentari bersinar kemilau Saat tirai malam berganti tirai langit biru Dan sayap-sayap mimpi men...
-
Apa Kabar November? Kemarau baru saja beranjak pergi. Lalu... Hujan segera menapakkan kaki-kakinya. Lewat bulir-bulir gerimis yang jat...
-
KERETA Keretaku merambah membelah sawah Membawa pergi sebagian jiwa-jiwa yang patah Karena harus berpisah Juga membawa kami yang pergi menin...
-
Bolehkan ku simpan gantungan kunci ini? Untuk mengingatkanku pada suatu saat di sebuah kampung yang jalannya berbatu dan dindingnya berpelan...
No comments:
Post a Comment